Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus berupaya menambah kesejahteraan guru bersertifikat melewati pemberian tunjangan profesi dengan layanan distribusi yang semakin baik. Hal ini sebab peran guru sebagai pendidik profesional mempunyai faedah dan status yang paling strategis dalam pembangunan nasional bidang pendidikan.

Pemberian tunjungan profesi tersebut sendiri sejalan dengan rencana pemerintah guna menaikkan perkiraan pendidikan pada 2019 menjadi Rp487,9 Triliun.

 

Salah satu format tunjangan guru ialah tunjangan profesi guru (TPG) yang mekanisme penyalurannya pada 2019 ini ditata melalui Permendikbud No. 33 Tahun 2018 mengenai Perubahan atas ketentuan Mendikbud Nomor 10 Tahun 2018 mengenai Petunjuk Teknis Penyaluran Tunjangan Profesi, Tunjangan Khusus, dan Tambahan Penghasilan Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah.

Tunjangan profesi tersebut sendiri adalahamanat Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 mengenai Guru dan Dosen pasal 14 yang mengaku guru berhak mendapat  penghasilan di atas keperluan hidup minimum dan garansi kesejahteraan sosial.

 

Penghasilan yang dimaksud tersebut diterangkan di pasal 15, yaitu mencakup gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta pendapatan lain, salah satunya ialah tunjangan profesi.

 

Sebelumnya dalam Pasal 2 dilafalkan bahwa pengakuan status guru sebagai tenaga profesional diperlihatkan dengan sertifikat pendidik.

Sebagai tenaga professional, guru paling tidak mesti mempunyai prasyarat terdidik dan terlatih (well educated and trained), terstruktur dengan baik (well managed), terlengkapi fasilitasnya (well equipped) dan ditunaikan dengan pantas (well paid).

 

Oleh karena tersebut pekerjaan seorang guru mesti ditunjang oleh prinsip-prinsip mempunyai bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.

 

Tunjangan Profesi guru diserahkan dalam format uang yang bisa dimanfaatkan oleh guru guna memenuhi keperluan hidup, sekaligus pun untuk meningkatkan keterampilan profesionalnya.

Ada sejumlah contoh melakukan pembelian barang profesi yang dapat dilaksanakan guru memakai sebagian dari tunjangan profesi yang diperolehnya yaitu:

 

  1. Belanja penambahan kualitas profesi.Misalnya mengekor seminar, lokakarya, workshop edukasi yang bukan diongkosi negara paling tidak satu semester satu kali kegiatan.
  2. Belanja media pendidikan.Misalnya pembelian laptop, computer, LCD, dan media lainnya yang berguna untuk peningkatan bobot pendidikan.
  3. Belanja penelitian.Misalnya penciptaan PTK, riset ilmiah, makalah dan sebagainya.
  4. Belanja penambahan materi pendidikan.Misalnya pembelian kitab materi, modul, CD pelajaran dan sebagainya.
  5. Belanja peningkatan kemampuan guru.Misalnya kursus computer atau kemahiran lainnya (sebagai sarana mengarah ke system pembelajaran berbasis teknologi di era industry 4.0).
  6. Belanja penambahan mutu edukasi lain. Misalnya studi banding, penanganan khusus untuk siswa “tertinggal” dan beda sebagainya. Semua contoh melakukan pembelian barang profesi ini bila dilaksanakan oleh guru muaranya ialah untuk penambahan kompetensi guru baik pada sisi kompetensi pedagogic, professional, social maupun kepribadiannya guna mewujudkan kualitas layanan edukasi yang lebih baik dan maju di Indonesia.